Rumah Belajar

Sekolah Ini Beri Pendidikan Gratis Ribuan Anak Jalanan di Depok

DEPOK — Depok bisa disebut sebagai kota pendidikan. Sebab di daerah itu berdiri berbagai tempat pendidikan, mulai dari jenjang TK hingga perguruan-perguruan tinggi terbaik. Namun ironinya, masih banyak anak yang putus sekolah atau bahkan tidak pernah mengecap pendidikan di Kota Depok.

Berangkat dari hal tersebut Sekolah MasTer (Masjid Terminal) hadir. Di bawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri (YABIM), sejak tahun 2000 sekolah alternatif ini memberikan pendidikan terhadap anak jalanan yang tinggal di terminal bus Depok dan sekitarnya.

“Awalnya konsepnya sederhana, kita ingin menginisiasi sekolah alternatif,” ujar Nur Rokhim selaku pendiri sekaligus pembina Sekolah MasTer, Sabtu (4/7).

Dalam kesehariannya, sekolah yang berdiri diantara terminal dan stasiun Depok itu memberi pendidikan gratis terhadap lebih dari 2.000 orang. Kegiatan terdiri dari tiga shift, yakni pagi untuk mereka yang usia TK hingga SD, siang untuk usia SMP hingga SMA serta malam hari untuk mereka yang masuk dalam klasifikasi akselerasi (dewasa).

“Kita kemudian merekrut para aktivis mahasiswa juga remaja masjid untuk bisa bergabung menjadi staf pengajar di sini,” kata dia.

Rokhim mengatakan, melalui sekolah ini Ia ingin mengangkat martabat mereka secara ekonomi. “Kita ingin mereka punya impian, memiliki kemampuan untuk berwirausaha sehingga secara ekonomi, martabat mereka bisa terangkat,” kata dia.

Karena itulah materi yang diberikan pada sekolah ini lebih kepada keterampilan, seperti design grafis, animasi dan lainnya di luar kemampuan dasar untuk profesional seperti microsoft word dan lain-lain.

Walaupun sejak tahun 2006, kegiatan ini semakin besar sehingga YABIM memutuskan untuk meresmikan Sekolah MasTer sebagai pusat belajar masyarakat, hingga memiliki sertifikat pendidikan baik formal maupun non-formal dari pemerintah dan juga menyediakan layanan konseling, pelatihan keterampilan kejuruan dan dukungan kesehatan/gizi.

Yasfi Arief selaku Sales Director PT. Alcatel-Lucent Indonesia mengapresiasi keberadaan sekolah ini. Karena itu pihaknya sejak 2012 hingga Juni 2015 kemarin memberikan dukungan melalui program mereka yang dinamakan ConnectEd Indonesia.

“Ini adalah program global kami, yang lebih menyasar ke arah digital. Tapi karena di Indonesia sangat berbeda kondisinya, sehingga bentuk dukungan yang kami berikan juga diadaptasi,” kata Arief di kesempatan yang sama.

Hingga saat ini, lanjut Arief, pihaknya telah memberikan beasiswa kepada 2.949 anak muda dimana 45 persen diantaranya adalah anak perempuan. Kemudian memberikan pelatihan yang berkaitan dengan teknologi informasi komunikasi (TIK) kepada 3.077 anak muda dan 59 guru.

Selain itu memberikan beasiswa kepada 977 anak di pendidikan formal serta 1.972 anak di pendidikan non-formal, termasuk pembinaan dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka.

Selain itu, guna menunjang kegiatan belajar mengajar, pihaknya memberikan dua laboratorium komputer serta untuk setiap jenjang mulai dari pendidikan usia dini hingga SMA, disediakan delapan unit laptop, proyektor juga printer.

“Kami juga memberikan pelatihan lain berupa keterampilan khusus untuk persiapan memasuki dunia kerja, dimana dalam pelatihan ini kami juga melibatkan karyawan untuk membantu mengajarkan materi,” kata dia (sumber : republika.co.id)