Presiden Jokowi Salami Gurunya di Peringatan Hari Guru di Istora Senayan

Jakarta, Kemendikbud — Sekitar 12.500 guru dan tenaga kependidikan memenuhi Gedung Istora Senayan pada acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Di antara ribuan guru tersebut, turut hadir pula guru-guru Presiden Joko Widodo saat ia bersekolah di SMP dan SMA di Solo, Jawa Tengah. Presiden tampak terkejut saat memasuki auditorium Istora Senayan dan langsung menyalami guru-gurunya itu.
Saat memberikan sambutan, presiden juga menyapa ke-11 gurunya yang hadir di acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Ia bahkan masih mengingat nama-nama mereka, salah satunya Bu Ning, guru mata pelajaran Kimia saat ia bersekolah di SMAN 6 Solo. “Nilai kimia saya dulu paling tinggi. Kalau tidak percaya, tanya Bu Ning. Banyak yang nggak percaya sih kalau saya pandai,” ujarnya berkelakar yang disambut tawa para hadirin di Istora Senayan, Jakarta, (24/11/2015).
Terkait tema Hari Guru Nasional Tahun 2015, yaitu “Guru Mulia Karena Karya”, presiden mengatakan kemuliaan seorang guru dilihat dari karyanya. “Saya sendiri adalah karya dari guru-guru saya, dan kita sendiri adalah karya guru-guru kita,” tuturnya.
Presiden Joko Widodo bersekolah di SMPN 1 Solo dan SMAN 6 Solo. Ada 11 gurunya yang diundang hadir ke Istora Senayan sebagai kejutan kepada presiden. Guru-guru tersebut antara lain Siti Norjati, Guru Biologi di SMPN 1 Solo; Soeparmi Soetoto, Guru Ilmu Ukur dan Aljabar di SMPN 1 Solo; dan Sri Hariyadiningsih, Guru Kimia di SMAN 6 Solo.
Sri Hardiyaningsih mengatakan, ia sangat bangga memiliki anak didik yang hebat, yang saat ini menjadi presiden ke-7 Republik Indonesia. “Saya guru yang paling lama ngajar dia, kelas 1, 2, dan 3. Kalau ulangan dia pelit, tidak mau dicontek teman. Kejujurannya luar biasa. Nilai kimianya memang bagus,” tutur guru yang akrab dipanggil Bu Ning itu.
Ketua Panitia Pelaksana Peringatan Hari Guru Nasional 2015, Anas M Adam mengatakan, guru-guru Presiden Joko Widodo itu sengaja didatangkan untuk memberikan kejutan kepada presiden. “Kami bergerilya. Mereka (guru-guru) ditelepon berdasarkan data yang sudah kami miliki, lalu setelah ada konfirmasi kami kirimkan tiket,” ujarnya
(sumber: Kemdikbud)