Kesenian Terbang Buhun dari Jawa Barat

Kesenian Terbang Buhun dari Jawa Barat – Terbang buhun merupakan salah satu seni pertunjukan rakyat yang tersebar di beberapa tempat di Jawa Barat, dengan beberapa sebutan, seperti Terbang Gede, Terbang Gebes, Terbang Ageung, dll. Pada masa lalu, seni terbang digunakan sebagai media dakwah Islam, melalui pupujian (puji-pujian) yang dilantunkan sepanjang pertunjukan berlangsung. Terbang buhun dianggap pula memiliki kekuatan-kekuatan spiritual dan mistis, karena itu seringkali dipakai pula di dalam upacara ngaruwat, misalnya ngaruwat anak, ngaruwat rumah, dll. Dalam upacara ruwatan biasa diadakan acara ngahurip dengan menebarkan air suci serta membuat sesajen dan sambung layang, yakni rangkaian hasil bumi yang disusun tiga lingkaran yang biasanya dibuat sepasang.

 Kesenian Terbang Buhun mempergunakan berbagai alat musik tradisional yaitu terbang kempring, terbang ageung, terbang gebrung, terbang talingtik, terbang goong, dan kendang. Untuk Sobat yang belum mengenal terbang, alat musik terbang ini adalah sejenis alat musik rebana namun dengan ukuran dan diameter lebih besar dari rebana pada umumnya.
 Kesenian terbang buhun ini mulai ada sejak perkembangan agama hindu di pulau jawa, atau sekitar tahun 1800 an. Pada awal adanya kesenian terbang, adalah merupakan ajang adu kesaktian. Para pemain terbang buhun yang pada umumnya merupakan satu kelompok diundang oleh kelompok lainnya pada tempat yang sudah disepakati. Acara adu kesaktian ini biasanya dilakukan pada tengah malam hingga menjelang pagi hari. Para pemain terbang buhun akan membunyikan terbang dengan kekuatan yang dimiliki. Karena pengaruh magis dan kesaktian lawan, terkadang terbang yg sudah dipukul pemain tidak berbunyi sama sekali. Pemain yang sanggup memainkan terbang paling keras dan paling lama akan dinyatakan sebagai pemenang.

Kemudian dalam perkembangannya kesenian terbang dipertunjukan sebagai media hiburan masyarakat dan juga sebagai media dakwah agama Islam, dimana sepanjang pertunjukan terbang dilantunkan berbagai puji-pujian dan shalawat. lalu dimasukkan pula beberapa lagu diantaranya: Jabaniah, Kentrung, Kembang Beureum, Kembang Gadung, Goyor, Titipati, Genjreng dan lain sebagainya.

Kesenian terbang buhun yang semakin langka ini memiliki berbagai pengajaran bagi pemain maupun penontonnya. Melalui permainan terbang buhun inilah kita menjalin kebersamaan yang utuh diantara sesama warga. Istilahna hirup ulah nepi ka paaing-aing, pagiri-giri calik pagirang-girang tampian. (Jangan Berlomba-lomba untuk melebihi rekan sejawat, tidak mau bekerja sama, tidak mau saling menolong).

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Terbang_buhun

http://jabarnews.com/?p=2990

http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=324&lang=id

Serta berbagai sumber online

Incoming search terms:

  • cara belajar kip dengan cepat
  • cara belajar buhun