Rumah Belajar

Calung, alat musik tradisional Jawa Barat yang tetap lestari

Pengertian Calung

Bila kita mendengar kata calung dapat berarti pada jenis seni pertunjukan maupun alat musik tradisional. Calung adalah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu, merupakan purnarupa dari alat musik angklung. Calung juga merupakan seni pertunjukan yang para pemainya menggunakan alat musik tradisional salah satunya adalah calung.

Kita fokus pada kata calung sebagai alat musik tradisional Jawa Barat. Tentu saja alat musik calung ini bisa dan akan tetap lestari apabila generasi muda mengenal dan menyukai alat musik ini. Dan faktanya masyarakat Jawa Barat saat ini banyak yang menggemari seni pertunjukan calung ini sehingga kita boleh bangga apabila alat musik tradisional dari Jawa Barat akan tetap lestari dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Berbeda dengan angklung yang dibunyikan dengan cara digoyang, calung dimainkan dengan cara dipukul. Bilah-bilah mambu yang disusun sesuai dengan tingkatan nada pentatonik (da-mi-na-ti-la), dipukul atau digesek dengan alat pemukul khusus sehingga menghasilkan bunyi yang merdu.

Kata calung sendiri merupakan kepanjangan dari kata ca yang berarti maca=membaca, dan lung yang berarti linglung (bingung). Konon pada awalnya calung merupakan alat musik mandiri yang dimainkan ditempat-tempat sepi oleh seseorang yang sedang menunggu padi di sawah atau di kebun.

Jenis – Jenis Calung

Pada umumnya Calung yang merupakan alat musik tradisional dari Jawa Barat ini dibuat dari awi wulung atau bambu hitam. Masyarakat sunda mengenal 2 (dua) jenis calung, yaitu calung rantay dan calung jinjing.

Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih. Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung indung dan calung anak/calung rincik). Cara memainkan calung rantay dipukul dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak “dudukan” khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

Calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing terdiri atas empat atau lima buah, seperti calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung bambu). Kelengkapan calung dalam perkembangannya dewasa ini ada yang hanya menggunakan calung kingking satu buah, panempas dua buah dan calung gonggong satu buah, tanpa menggunakan calung jongjrong Cara memainkannya dipukul dengan tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antar lain dimelodi, dikeleter, dikemprang, dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek, dan solorok.

Sejarah & Perkembangan Calung

Popularitas alat musik dan kesenian calung dimulai ketika mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa (Lembaga kesenian UNPAD) mengembangkan bentuk calung ini melalui kreativitasnya pada tahun 1961.
Menurut salah seorang perintisnya, Ekik Barkah, bahwa pengkemasan calung jinjing dengan pertunjukannya diilhami oleh bentuk permainan pada pertunjukan reog yang memadukan unsur tabuh, gerak dan lagu dipadukan.
Lalu perkembangan calung dilanjutkan pada tahun 1963, bentuk permainan dan tabuh calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan-kawan dari Studiklub Teater Bandung (STB; Koswara Sumaamijaya dkk), dan antara tahun 1964 – 1965 calung lebih dimasyarakatkan lagi oleh kawan-kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan informasi (penyuluhan (Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K., Enip Sukanda, Edi, Zahir, dan kawan-kawan), dan grup calung SMAN 4 Bandung (Abdurohman dkk).
Dari sinilah mulai bermunculan grup-grup calung di masyarakat Bandung, misalnya Layung Sari, Ria Buana, dan Glamor (1970) dan lain-lain, hingga dewasa ini bermunculan nama-nama idola pemain calung antara lain Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.

Perkembangan kesenian calung begitu pesat di Jawa Barat, bentuk kreativitas dalam seni pertunjukan calung semakin bervariasi dengan menambahkan beberapa alat musik dalam calung, misalnya kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Unsur vokal menjadi sangat dominan, sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal, seperti Adang Cengos, dan Hendarso.

Pada seni pertunjukan calung, Pemain calung sendiri bisa terdiri dari 5 atau lebih pemain yang masing – masing memegang calung yang berbeda. Dipadukan dengan pertunjukan dan dialog-dialog diantara pemainnya. Isi permainan calung bisa berupa lawakan / humor, nasihat-nasihat atau sindiran atas kejadian yang ada dan berkembang di masyarakat Indonesia yang diselingi dengan melantunkan tembang sunda.

Untuk lebih mengenal calung dan seni pertunjukannya, kita simak salah satu video yang diunggah di youtube.com dibawah ini :

Calung Darso :

Demikian Sobat, pengertian, sejarah dan jenis calung yang berkembang di Jawa Barat. Semoga bermanfaat. Sumber : id.wikipedia.org, kumeokmemehdipacok.blogspot.com