Belajar Sambil Berdiri Bisa Tingkatkan Konsentrasi Belajar Anak

Kebanyakan duduk sudah terbukti bisa menimbulkan berbagai risiko kesehatan, misalnya saja obesitas dan risiko diabetes tipe 2. Pada anak-anak, kegiatan belajat yang mereka lakukan dalam posisi berdiri ternyata berpengaruh pada prestasi mereka.

Peneliti di Texas A&M Health Science Center School of Public Health menemukan bahwa belajar dalam posisi berdiri bisa membantu anak lebih berkonsentrasi dan terlibat dalam kegiatan belajar di kelas. Untuk studi ini, peneliti melibatkan 300 anak yang duduk di bangku kelas 4 SD.

(baca juga :Model Pembelajaran Kooperatif Model TGT (Team Games Tournament)

Selama beberapa jam, sekelompok siswa diminta memperhatikan pelajaran dalam posisi berdiri, sementara siswa yang lain dalam posisi duduk. Hasilnya, ditemukan bahwa perhatian anak yang berdiri lebih fokus dan terpusat pada pelajaran, dibandingkan dengan anak yang duduk.

Berdiri juga membuat anak 12% lebih aktif di kelas, ketimbang anak yang duduk memiliki tingkat keterlibatan di kelas sebanyak 7%. Beberapa indikator keterlibatan anak di kelas yakni seringnya mereka menjawab pertanyaan, mengangkat tangan untuk mengungkapkan pendapat, serta ikut aktif dalam diskusi kelompok.

“Kondisi belajar dalam posisi berdiri bisa mengurangi perilaku yang bisa mengganggu proses belajar dan menambah perhatian siswa atau perilaku akademisnya,” tutur salah satu peneliti, Mark Benden, PhD, CPE dalam laporannya di Journal of Health Promotion and Education dan dikutip pada Minggu (26/4/2015).

Hal ini, lanjut Benden, bisa terjadi karena siswa mendapat metode berbeda untuk menyelesaikan tugas sekolahnya yakni berdiri, yang bisa mengganti kebiasaan mengerjakan tugas sekolah selama ini, yaitu duduk. Mengingat perilaku akademik berkontribusi besar pada prestasi siswa, Benden menekankan tak ada salahnya jika sekolah atau bahkan orang tua di rumah menerapkan kebiasaan belajar sambil berdiri.

(baca juga :Model Pembelajaran Tari Bambu : langkah dan kelebihannya)

“Tentunya tidak harus dilakukan terus-terusan karena jika anak merasa lelah, bolehkan ia beristirahat, salah satunya dengan kembali duduk,” tutur Benden. (Radian Nyi Sukmasari – detikHealth)